BURNOUT DAN STRESS
A. BURNOUT
Burnout (kejenuhan) atau yang dalam bahasa gaul disebut ”bete”,kini semakin disadari sebagai suatu masalah serius yang mempengaruhi manusia.Burnout ternyata bukan saja dialami oleh pegawai pada perusahaan industri,melainkan pula sering terjadi pada mereka yang bekerja di lembaga pelayanan kesejahteraan sosial,termasuk pekerja sosial dan psikolog (zastrow,1999). Maslach dan Pines (1977:110-101) telah melakukan studi yang mendalam mengenai burnout ini terhadap beberapa profesi seperti pekerja sosial,psikiater,psikolog,petugas penjara,perawat psikiater,pengacara,dokter,perawat anak,guruh,pendeta,dan konselor. Berdasarkan penelitian tersebut Maslach dan Pines memberikan pengertian mengenai burnout dan menyimpulkan beberapa gejala yang menyertainya. Burnout dalah hilangnya perhatian terhadap orang yang sedang ditolongnya.Selain ditandai oleh kelelahan fisik dan penyakit fisik,burnout juga ditandai oleh kelelahan emosional sehingga para profesional tidak lagi memiliki perasaan-perasaan positif,simpati atau respek terhadap klien atau pasien yang ditolongnya.
B. STRESS
Stress merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh terhadap berbagai penyakit,seperti serangan jantung,sakit kepala,diabetes,alergi,dll. Stress juga merupakan faktor yang mempengaruhi gangguan emosional dan perilaku.Dengan demikian,kemampuan mencegah stress dapat dipandang sebagai cara yang efektif untuk mencegah gangguan-gangguan emosional dan fisik.
Stress dapat didefinisikan sebagai reaksi psikologis emosional terhadap stressors. Stressors (sumber/penyebab stress) dapat berupatuntutan,situasi atau keadaan yang mengganggu keseimbang seseorang. Terdapat sejumlah stressor yang mudah dikenali,antara lain kerumunan,keributan,kematian teman,demam yang berlebihan,kehilangan pekerjaan,keracunan dan pertengkaran.
C. PENYEBAB STRUKTURAL
Edelwich (Suharto, 1997) mengedintifikasi beberapa faktor struktural yang berkaitan dengan pekerjaan yang pada gilirannya menyebabkan stress dan brunout :
1. Terlalu banyak jam kerja.
2. Karir buntu atau tidak dapat berkembang.
3. Terlalu banyak pekerjaan atau kertas kerja yang harus diselesaikan.
4. Tidak memadainya pelatihan kerja.
5. Tidak dihargai klien.
6. Tidak dihargai oleh penyelia (supervisor).
7. Tidak digaji secara layak.
8. Tidak adanya dukungan dalam membuat keputusan penting.
9. Tidak memiliki kewenangan (powerleness) .
10. Sistem tidak responsif terhadap kebutuhan klien.
11. Kondisi dan situasi kerja yang buruk.
12. Adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.
13. Terlalu banyak perjalanan ke luar kota.
14. Terisolasi dari teman dan sahabat.
15. Tidak memiliki kehidupan sosial.
D. STRATEGI PENANGANAN BURNOUT DAN STRESS
Burnout tidak saja merugikan pekerja sosial yang mengalaminya,melainkan pula menggangu dan bahkan merusak hubungan profesional antara konselor dan klien. Selain burnout dapat menimbulkan gangguan fisik dan emosional,burnout juga menurunkan produktivitas,kinerja,dan kualitas pelayanan lembaga.Ada beberapa cara atau kiat untuk mencegah dan mengurangi stress,maupun burnout :
1. Perumusan tujuan dan pengaturan waktu.
2. Berfikir positif.
3. Mengubah pemikiran yang menimbulkan burnout.
4. Teknik-teknik relaksasi.
5. Melakukan latihan olahraga.
6. Melakukan kegiatan luar dan hobi.
7. Melakukan hal-hal yang menyenangkan.
8. Sistem dukungan sosial.
9. Variasi kerja
10. Humor
11. Mengubah atau menyesuaikan dengan kejadian-kejadian yang membuat stress.
makasih banyak kak , sangat membantu
ReplyDelete